Saturday, May 31, 2008

Menjadi Motivator

Beberapa bulan ini, gue 'tergelitik' dengan kata "motivator". Beberapa waktu lalu, pernah ada sms mampir ke hp gue yang lama... "Terimakasih, sudah menjadi motivatorku". Intinya begitu. Gue sendiri tidak pernah berfikir bahwa gue akan menjadi motivator seseorang.. wong memotivasi diri gue sendiri aja susah, apa lagi jadi motivator orang lain.

Tapi, apa hendak dikata, dia bilang seperti itu. Hidung gue jadi kembang kempis baca sms itu. Bukan, bukan karena pilek, tapi gue merasa apa ya.... senang? tersanjung? Mungkin. Beberapa orang mungkin tidak pernah berniat untuk menjadi motivator orang lain. Kita mungkin sering denger lah... ikutan seminar "ini" dan "itu" bagus memotivasi diri sendiri. Tapi ya itu tadi, hanya untuk memotivasi diri sendiri, bukan untuk memotivasi orang lain kan? Gue agak ngelantur tampaknya. hehe...

Anyway, dengan umur gue yang semakin tua, sudah banyak pengalaman yang pernah gue jalanin dan alami, termasuk motivasi itu sendiri. Gue pernah mencoba beberapa kali untuk memotivasi diri gue sendiri ketika menulis tugas misalnya. Dan seringnya berhasil. Motivasi itu apa sih sebenernya? Motivasi menurut definisi gue sendiri adalah mendorong. Bukan mendorong ke jurang, tapi justru mendorong ke arah yang lebih baik.

Tidak ada niatan gue untuk memotivasi dia (yang sms itu) gue hanya bercerita waktu itu, bahwa gue pernah mengalami hal yang dia alami dan ternyata gue mampu mengatasi hal yang dia alamin itu. Kalau ternyata cerita itu membuat dia termotivasi dan ternyata berhasil, itu semua atas 'kelakuannya' dia sendiri. Dia sendiri yang mampu memotivasi dirinya sendiri untuk berhasil. Karena pada dasarnya semua itu hasil perbuatan kita sendiri kok, percuma kalo gue, misalnya, cerita panjang lebar dan sibuk memotivasi orang itu, tapi dia sendiri gak usaha. Gagal dong jadi motivatornya?

Anyway, intinya adalah ini, ketika kita ngobrol dengan seseorang, tanpa kita sadari kita telah memotivasi dirinya dan diri kita sendiri untuk melakukan sesuatu yang lebih baik. Jangan ditampik, percaya deh, menjadi motivator itu ternyata menyenangkan, apa lagi memang kita tadinya tidak berniat untuk menjadi motivator.. hehehe.... Tulisan ini asli ngaco.. gue lagi kangen nulis aja benernya... tapi keabisan topik... hihihih... :)

Berita-berita...

Beberapa bulan ini, gue sibuk banget, ngerampungin proposal thesis yang gue pikir "kok gak kelar-kelar". Sampe beberapa temen di Irc bilang gue sombong banget, online di irc cuma pake nick 'away', dan jarang ngebodor di channel.

Setelah beberapa minggu gue begadang demi thesis... oh, dan juga melepas penat di irc kadang, akhirnya kelar juga 40% dari kerjaan gue itu. Kenapa gue bilang 40%? Karena gue belum seminar proposal. Astaga.. kalo dipikir, tahapan buat lulus S2 ntu susah banget sih.... Gue gak pernah ngalamin kaya gini. Ya maklum aja, gue blum pernah ngalamin S1. Dulu gue kuliah kan cuma D-IV. Dan gak ada acara bikin skripsi yang njelimet itu. Bikin laporan PKL, dan sidang, kelar. Dan lagi, sidang dulu gak 'sebombastis' temen temen lain yang bikin skripsi. Walhasil, kayanya susah banget gue.

Sekarang, setelah proposal gue kelar, gue sedang menanti untuk seminar proposal. Masih banyak yang harus gue kerjain lagi... Untungnya ada Choy yang siap ngebantu anter jemput kampus buat ke kampus. (makasih ya...) Sekarang ini, gue sedang dalam tahap membuat 'paparan proposal' dan harus pake power point. Gue merasa, proposal thesis gue kemarin itu gak begitu menarik buat para penguji. Akhirnya, gue harus bikin supaya mereka meloloskan gue untuk bisa nerusin thesis, jadi, niat gue ini, mo bikin paparan yang atraktif, semenarik mungkin, biar para penguji itu bisa senyum-senyum ngeliat powerpoint gue.

Selepas gue ngirim proposal ke sekretariat, gue dapet berita baik, Choy, yang udah lama agak bosen dengan kantornya yang sekarang ini, "sudah tidak kondusif lagi" - katanya, dipanggil buat interview di tempat lain. Kali ini, gue mengajukan 'proposal' lagi ke dia, minta gaji yang lebih banyak dan juga jabatan yang lebih layak untuk dia :)

Dan kemarin, tanggal 29 Mei, Choy diterima di kantor barunya. Bergerak dalam bidang yang sama, Online Game, tapi dengan karir yang lebih baik (semoga) dan jabatan yang lebih baik, juga gaji yang lebih 'layak' . Selamat ya Choy! Kalau tidak ada aral melintang, dia mulai bekerja di tempat yang baru tanggal 9 Juni depan.

Agak bernapas lega akhir bulan ini... kayanya Tuhan sedang tersenyum sekarang. Well, greater power comes with a greater responsibilities.... Semoga Choy siap dengan tambahan tanggung jawab itu nantinya. -amin-

Makasih buat temen temen yang udah ngebantuin, ngedoain .... :)) semoga akhir bulan Juni besok, kita sama sama dapat 'cipratan' traktiran Choy .. gaji pertama di tempat baru! *hahaha...*

Thursday, May 01, 2008

My dog, Jacko


Gue ini tmasuk fanatik cinta sama anjing. Gue pernah piara anjing sampe 5 ekor, di rumah gue yang kecil ini. Selain buat jagain rumah, ternyata makhluk ini bener-bener bisa ilangin stres gue. Daerah pemukiman gue, termasuk banyak yg gak suka anjing. Sayang banget, padahal semua anjing gue termasuk galak buat gonggongin pemulung. Bukannya gak suka sama pemulung, ya. Tapi gue seringkali sebel sama tingkah mereka. Plastik sampah yang udah diiket, dibuka-buka, dikeluarin isinya. Kalo udah dapet yang mereka cari, boro-boro dirapiin, sampah yang udah mereka keluarin cuma ditinggal gitu aja. Pernah juga, sampah udah ditaruh di dalam pagar, malah dicongkel-congkel pake alat ala kapten hook itu.

Anyway, pernah suatu ketika, Jacko keluar pagar, pulang-pulang, badannya penuh luka tusukan. Gue rasa dia ribut besar dengan tangan kapten hook. Terpaksa dia gue bawa ke dokter hewan, buat dijahit.
Jacko ini manjanya setengah mati sama gue, dan cemburuan! Seringnya sih, dia ramah dan cuek sama Choy, cowok gue. Tapi, kalo lagi iseng mau manja sama gue, Jacko langsung naik ke sofa dan duduk di tengah-tengah gue dan choy, atau sekedar naruh kepalanya dia ke pangkuan gue. Hehehe.. Dia juga lumayan jago dsuruh ngejar sesuatu yang bergerak, tikus, kecoa, dan seringkali kalo kumat badungnya, dia nguber semut terbang.

Emang sih, dia juga badung buanget. Tetangga kadang juga protes ke gue, karna diuber Jacko gara-gara bawa payung.

Anyway, yang bikin gue rada-rada sewot, adalah kejadian sekitar 2 minggu lalu. Malam minggu lalu, entah kenapa, gue tepar, gak bangun-bangun sampai jam 10 malem. Walhasil, gue ga diapelin. Eh, Jacko malah bawa pacarnya ke rumah! Udah gitu pake ngelakuin aktivitas mesum di depan gue! Sejak itu, pacarnya jadi sering nginep, duh, samenleven gitu deh. Nah, Jumat kemarin, pagi-pagi, pacarnya mungkin pulang, dan karena bokap gue yang gak suka Jacko masuk rumah ini pas dateng ngunjungin gue, Jacko akhirnya ke halaman. Kebetulan matahari terik banget, dia mungkin pengen ngadem di mana gitu. Tapi, ternyata sampe hari ini, dia gak pulang... :-( sedih banget gue. Gue sering tau ada beberapa orang yang suka ambilin anjing, buat dijual ke orang yang berasal dari suku tertentu untuk dimakan.. Ngebayangin anjing gue disiksa sampai mati buat dijadikan santapan, bener-bikin gue nangis kaya kesurupan. Sekarang aja gue masih nangis. Kok tega ya.. Padahal gue kasih kalung, biar ada tanda kalo dia dipiara.. JAHAT BANGET MEREKA ITU!!

Beneran,gue sumpahin mereka yang ngambil Jacko, lidahnya ga berhenti ngeluarin air liur!

Gue kangen banget sama anjing gue.. Semoga dia baik-baik aja dan bisa nemuin jalan pulang ke rumah gue... Miss u so much buddy! :'(

Friday, April 18, 2008

Gathering IRc - Ragunan!!!

InterRelay Chat = atau biasa disebut dengan IRc, adalah tempat yang sering dituju untuk orang-orang yang sering bete, menambah teman hingga mencari jodoh. IRc, merupakan satu tempat chat online yang paling sering gue kunjungin. Gue sudah menjadi salah satu 'anggota komunitas' irc sejak tahun 1999, beberapa bulan setelah mama meninggal, dan gue gak ada temen buat ngobrol atau curhat, HIngga sekarang. Pun setelah makin banyak orang menggunakan irc sebagai ajang untuk sekedar ngobrol, bercanda, cela-celaan, atau kadang berbuat onar, gue masih tetep setia dengan ajang chatting online ini.

Beberapa bulan setelah gue pertama kali masuk ke irc, kita sering mengadakan kopi darat. Ketemu di real life, untuk sekedar berkenalan dengan temen-temen yang sering gue ajak ngobrol di channel irc ini. Hingga akhirnya gue mengikuti salah satu ajang bergengsi (menurut versi gue) yaitu Gathering antar teman irc. Karena gue seringnya berada di salah satu server - undernet- waktu itu gue berkumpul di Jogja, tempat Gathering Undernet ini berlangsung. Dan, ternyata Gathering Undernet ini sudah dua kali diadakan, di kota yang sama.

Ternyata, irc ini bukan hanya tempat untuk ajang ngobrol, tapi juga ajang untuk mencari informasi, mencari teman, dan juga mencari jodoh. Banyak teman-teman yang gue kenal ternyata justru mendapatkan jodoh melalui irc, dan mereka hidup bahagia (bahagia gak sih, lu pada? )

Beberapa tahun setelah ajang gathering itu, lalu muncul gathering kecil-kecilan, yah, cuma sekedar teman-teman dekat yang berada di satu kota, lalu kumpul bareng... Obrolannya? Apa lagi kalau bukan obrolin teman-teman irc juga. Walaupun akhirnya setelah sering ngobrol bisa meluas.. bisa tukar menukar informasi, tukar ilmu mengenai IT, permasalahan komputer, atau apa aja. Bagi gue, irc merupakan salah satu fasilitas, yang gak membuang waktu, walaupun banyak orang yang bilang chatting merupakan pembuangan waktu yang sia-sia.

Irc, buat gue menjadi satu tempat untuk bersosialisasi, untuk mengungkapkan pendapat dimana saat ini banyak tempat yang melarang kita buat bebas berpendapat, mengungkapkan uneg-uneg, mencari informasi, data, hingga ajang pamer-pamer kehebatan dalam bidang IT. Irc juga tempat dimana gue bisa melatih kemampuan bahasa Inggris gue dengan berkenalan dengan berbagai orang di seluruh dunia, menyelami kebudayaan di berbagai tempat, mengenal berbagai karakter orang di berbagai pelosok dunia.

Sayangnya, saat ini banyak individu-individu yang belum mengenal Irc secara mendalam. Banyak dari mereka yang hanya ingin meracau, adu hebat dengan flooding, atau berbagai cara lain. Sungguh disayangkan.

Anyway, berangkat dari acara gathering-gathering tadi itu, gue sering ikutan acara kumpul-kumpul dengan teman-teman irc, hingga sekarang. Sering kita ngadain acara kumpul-kumpul di mall, hanya makan bersama sambil nongkrong bareng. Karena agak bosan kalau ngobrol di mall, dan juga karena lama lama risih juga tiap nongkrong kita gak pernah bisa kurang dari 5 jam (hingga para waiter restaurant terpaksa pasang muka jutek) akhirnya kami berinisiatif untuk ngumpul di tempat lain. Kali ini pesertanya hanya sedikit, jadi kami pikir, lebih baik kami tidak menghabiskan banyak uang hanya sekedar ingin ngumpul bareng.

Dengan iseng, gue mengajukan tempat di Ragunan. Yap. Kebun binatang Ragunan. Satu-satunya kebun binatang di Jakarta Raya ini. Kenapa? Karena belum tentu semua orang yang tinggal di Jakarta ini pernah menengok kebun binatang milik Jakarta ini. Gue sendiri sudah bertahun-tahun gak pernah ke Ragunan, hingga akhirnya ada seorang teman yang bilang, Ragunan sekarang udah bagus lho. Skeptis, beberapa waktu lalu sebelum acara gathering, gue dan Choy pergi ke sana. Sembari mengingat-ingat masa SD waktu pertama kali ke kebun binatang ini, kami berdua jalan-jalan ke sana. Belum banyak yang berubah ternyata, kandang-kandang di sana masih kecil, tidak layak untuk mengandangi beberapa hewan di sana. Atau mungkin gue yang sudah terlalu sering melihat Animal Planet dengan kandang-kandang hewan yang buesar buesar dan mirip dengan habitatnya.

Anyway, akhirnya kami bertujuh pergi ke Ragunan. Ternyata pas ke sana .. padet banget! Gue sempet bilang, wah ternyata Ragunan belum hilang pamor sebagai tempat tujuan wisata orang-orang ke Jakarta. Dan gue pikir juga, baik juga orang tua mengajak anak-anaknya untuk mengenal lebih jauh tentang hewan-hewan ini. Ternyata gue salah duga. Memang banyak anak-anak yang diajak... dan ternyata.. bukan untuk memperkenalkan hewan.. mereka diajak berpiknik. Banyak daerah rerumputan dan pepohonan yang akhirnya terpaksa penuh sesak dengan para orang orang yang datang. Mereka membawa bekal makanan, menggelar tikar, menginjak rumput.... sedih rasanya. Tapi mau gimana lagi? Tempat duduk di sana hanya disediakan di warung-warung makan. Kalau lagi gak pengen makan gimana dong? Akhirnya dengan rasa agak bersalah, kami ikut-ikutan menggelar tikar. Piknik sendiri. Ngobrol ngalur ngidul... mau ngeliat hewan juga bingung.. kebanyakan manusia yang berlalu lalang.

Oh well, tampaknya gagal acara gathering di tempat terbuka seperti ini.. next time.. mungkin kita tetap kumpul-kumpul di mall.. biar aja para waiter itu jutek... toh kita bayar :p

Tapi, bulan Agustus ini, rencananya kita akan ke Bali. Berangkat beramai-ramai dari Jogja. Kayanya bakalan asik.. Tunggu aja crita dari gue... Tentu beserta foto-foto :) Gak sabar rasanyaaa!! :)

Thursday, April 17, 2008

Jenjang Pendidikan, perlu?

Hampir setiap hari Jumat, saya selalu saja uring-uringan. Ini udah berlangsung selama hampir 1,5 tahun belakangan ini. Kenapa? Karena hari Sabtu adalah hari dimana saya kuliah. Setiap hari Jumat, orang yang mengenal saya, sangat tahu perilaku saya. Saya berubah menjadi seorang yang agresif, sensitif, tidak mau dikritik dan sangat egois. Bukannya di hari-hari lain saya tidak seperti itu, tapi kadarnya menjadi sangat berlebih, setiap Jumat. Tapi sebetulnya, hari Sabtu juga saya nantikan. Ya karena kuliah itu. Saya jadi berkesempatan untuk melihat serta bercengkerama dengan teman-teman sekelas, bercanda dan tentu membawa pulang ilmu.

Anehnya, setiap hari Jumat, saya selalu tidak bisa tidur lebih awal. Sehingga setiap hari Sabtu pagi, hampir bisa dipastikan saya ogah-ogahan bangun. Padahal, kalau hari biasa juga ogah-ogahan. Ya, namanya pengangguran, gak usah protes lah... Tapi ini gak akan berlangsung lama... Sabtu besok ini, adalah hari terakhir saya kuliah. Setelah itu, saya akan lebih sibuk, supaya bulan Agustus saya bisa lulus, diwisuda dan pergi ke Bali bersama teman-teman saya. Most of all, biar cepet kelar ni kuliah, supaya bisa memikirkan hal-hal lainnya.

Beberapa waktu lalu, ada teman yang berkomentar : Jah! Hare geneeeeeeeee.... kuliah?? Gak jaman!!

Saya sempet memikirkan komentar itu, sebelum membalas dengan komentar yang lebih cerdas dan lebih 'asal-asal'an. Pemikiran saya adalah ini:

1. Mungkin yang berkomentar sudah 'jengah' dan bosan mendengar kata-kata "kuliah", sehingga berkomentar seperti itu.
2. Mungkin yang berkomentar sudah merasa cukup ilmu (saya menduga mungkin dia sudah professor) sehingga saya yang masih kuliah dirasa sudah telat untuk menimba ilmu.
3. Mungkin yang berkomentar merasa ilmu tidak harus dicari di bangku kuliah saja. (ya, emang bener sih).
4. Mungkin yang berkomentar sudah tau betul bahwa seharusnya saya, yang berumur 30-ish sudah terlambat untuk menimba ilmu, dan seharusnya memikirkan hal yang lain, ngurus suami atau anak misalnya.

Tapi demi norma 'kesopanan' saya lalu membalas : Yah, ilmu sepanjang jaman, mas!

Namun, setelah beberapa saat, saya terpekur, terdiam. Apakah memang betul, bahwa kuliah saya ini memakan waktu saya? Menyia-nyiakan hidup saya? Bahwa seharusnya saya tidak perlu kuliah lagi, toh sebagai wanita, nantinya saya juga akan lebih banyak mengurus hidup suami dan anak anak saya kelak. Dan demi kata kata "ilmu sepanjang jaman", saya seharusnya tidak perlu kuliah, dan lantas menyerap ilmu dari media lain, selain di perkuliahan, mendengarkan "dongeng" dosen, menekuri literatur, menjaga agar tidak 'jebol absen' serta berbagai pernik-pernik uji kemampuan demi selembar 'sertifikasi' agar diakui sebagai wanita yang 'berpendidikan' ?

Saya sangat setuju dengan pendapat bahwa ilmu tidak harus didapat dari bangku perkuliahan. Bahwa kemampuan tidak hanya berupa kertas sertifikat kelulusan dengan nilai nilai transkrip yang menjadi tolak ukur untuk ikut 'meramaikan' Daftar Riwayat Hidup sebagai syarat mendapatkan pekerjaan. Tapi kenapa ayah saya ngotot untuk mengembalikan saya ke bangku kuliah?

Saya ingat, dulu beliau bilang : kuliah ini akan mengubah hidupmu. Yah, akhirnya memang mengubah hidup saya. Saya jadi membuka buku lagi, gemar membaca lagi... dan kali ini bukan novel atau komik kungfu-boy. Tapi saya mengartikan bahwa kata kata ayah "mengubah hidup" yang dimaksud adalah supaya saya mendapatkan kerja yang lebih baik, mendapatkan posisi yang lebih baik, mendapatkan tentunya, uang yang lebih banyak. Sayangnya, saya belum bisa membuktikan itu. Walaupun orang bilang Indonesia adalah orang yang 'sertifikat minded'. Maksudnya, orang yang mendapatkan jenjang pendidikan yang lebih baik, mendapatkan kesempatan yang lebih banyak. Pembuktian jenjang pendidikan yang lebih baik, tentunya harus kasat mata, dibuktikan dengan adanya surat kelulusan, sertifikat.

Awal-awal saya kuliah lagi, saya sempat bangga. Meng-update CV saya dengan menambahkan daftar pendidikan dengan satu poin lagi "Sedang mengikuti pendidikan". Namun, saya merasa hal ini malah menyulitkan saya. Banyak teman yang saya tanyakan, "ada lowongan?" dan mereka pun memberikan informasi, cukup banyak malah, agar saya dapat bernasib baik dan lalu bergabung dengan tempat dimana mereka bekerja. Namun, mereka akan bertanya balik "lho, loe ? (menyebutkan program kuliah yang saya jalani)". Saya mengangguk, bangga saat itu. Karena saya tau, tidak banyak orang yang bisa mendapatkan kesempatan untuk kuliah setinggi saya. Tapi ini menjadi bumerang untuk saya. Mereka dengan muka yang agak susah dijelaskan akan berkomentar "waahh.. kantor gue kayanya gak mampu nggaji orang dengan jenjang pendidikan elo..". Awalnya saya merasa (dengan sedikit jumawa) bahwa mungkin kantornya tidak cukup bonafid untuk menerima saya sebagai salah satu karyawannya. Tapi, setelah saya juga melamar pekerjaan melalui online lowongan yang tersedia di internet, saya menjadi agak pesimis. Saya yang tidak cukup pandai, atau mereka 'silau' dengan status 'kemahasiswaan' saya? (baca: takut bayar gaji yang kemungkinan akan saya minta tinggi sesuai dengan jenjang pendidikan saya).

Padahal, sebelum saya kuliah, saya termasuk orang yang gampang untuk mendapatkan pekerjaan. Bukannya menyombong, dengan beberapa perusahaan yang telah mempekerjakan saya, dan dengan sedikit ilmu dan kemampuan saya, dulu saya bisa saja mencari pekerjaan dengan mudah. Namun, ketika saya sudah memperdalam ilmu (baca: memperluas wawasan) dan semoga mendapatkan lebih banyak kemampuan, kok malah susah ya, cari pekerjaan? Malah, demi mendapatkan pekerjaan, saya sampai sedikit 'menurunkan' standar gaji saya.

Kata teman saya : jangan nurunin standar gaji elu, tapi hapus aja sementara itu jenjang pendidikan elu. Toh belum lulus juga kan? Ntar kalau udah diterima kerja, baru deh, lo tunjukin sertifikat elu. Bisa buat naikin gaji kan?

Hmmm... saya jadi mikir... Apakah memang seharusnya begitu? Saya ini menulis jenjang pendidikan saya yang belum lulus itu bukan tanpa sebab. Saya hanya tidak mau jadwal kuliah saya terganggu. Banyak perusahaan sekarang yang mencanangkan hari Sabtu kerja juga. Jadi saya memakai embel-embel "saya hanya kuliah pada hari sabtu, jadi hari senin hingga jumat saya dapat bekerja penuh".

Teman saya yang lain bilang : belum nasib elu kaliiiiiiiii!

Lagi lagi saya bertanya dalam hati, apa iya, belum nasib saya? Jadi buat apa dong, saya kuliah lagi, mumet lagi, kalau ternyata di CV saya harus saya hilangkan jenjang pendidikan saya yang kata ayah saya bisa mengubah hidup saya?

Jawab teman : ya buat ngubah hidup elu, ternyata lulusan semacam elu itu susah cari kerjaan!

Oh.... begitu.... *angguk angguk*

Wednesday, April 02, 2008

Gathering!


Kumpul-kumpul IRc!

The Sunset


Beberapa waktu lalu, gue dan beberapa temen pergi ke Jakarta Bay, atau lebih dikenal dengan Ancol.

Waktu sunset, gue terpersona gitu deh liatnya. Gak membuang waktu, gue ambil K610i gue, dan klak klik jepret! Ternyata pas gw liat, duh, kaya bukan di Jakarta. :-D

Well, I hope you all like this as much as I do!

Tuesday, April 01, 2008

yaelah!!!


Hari ini nyebelin... bangun tidurnya gak enak banget, soalnya "dipaksa" bangun.. cuma buat dikasih tau "ada macaroni schottel di meja makan kalau mau". Emangnya ntar gue gak bakalan bangun dan 'mengendus' makanan? haduh...

Setelah itu, jadi rusak semua mood gue. Ribet bener. Chatting dari pagi, ketemu sama temen yang ada di luar negeri. Dia katanya mau bayarin sekian persen dari tarif pesawat. Disangka gue bisa jual rumah segera? huh.

Lalu, pas lagi ceting, ketemu sama temen.. yang dengan baik dan sopannya tanya : gimana thesis? Makin berantakan lah mood gue. Tergoncang gitu lho. *heleh*

Sekarang sudah jam 3.43 pagi.. dan gue masih belum bisa tidur... ini otak maunya mikir terus... heran.. mbok leren gitu lhooooooooooo :((




Kalo lagi ngantuk ya gini ini.....
Kok yang motret ya nekat.... *grmbl*

Wednesday, March 19, 2008

Tiada JuduL

Hari ini, gue ngerasa capek, lahir bathin. Ada rasa kecewa dalam diri, ketika ada sesuatu hal yang harusnya bisa terselesaikan hari ini, namun karena fisik gak memungkinkan, gue terpaksa menunda.

Beberapa waktu lalu gue terobsesi dengan blog seseorang, dia menuturkan kata-kata yang sangat baik, seolah gue bisa mengerti jiwanya. Seolah gue berada di sampingnya dan mendengarkan dia bercerita. Sayangnya, sedikit dari jiwa gue berontak terhadap blog dia. Ketika dia mengisahkan seseorang yg tidak perlu lagi diceritakan. Tapi sekali lagi itu hak dia. Hak dia pula untuk mencintai seseorang yang telah pergi.

Penorehan luka telah begitu dalam, bernanah. Dan bagai orang yang mengidap diabetis, luka itu sulit untuk diobati. Dan gue sekali lagi tidak punya hak untuk menghakimi cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.

Gue hanya berharap siapapun yang memiliki blog itu sadar, bahwa dia masih memiliki kehidupan yang lain dan masih ada di luar sana yang mencintai dia, seperti kekasihku yang mencintai dan menerima semua kekurangan dan kelebihan gue.

Wednesday, March 05, 2008

ReVieWs!!!

Beberapa waktu lalu gue berkesempatan buat melakukan aktivitas-aktivitas yang gue sukai;
1. baca buku/novel
2. nonton film.

Nah, beberapa waktu lalu gue sempet terprovokasi dengan adanya beberapa teman yang ngomong buku "Ayat-Ayat Cinta" dan karena gue sempet liat bahwa filmnya akan segera ditayangkan, gue sengaja beli novel ini. Ini review pribadi gue aja, lho ya.. bukan untuk memprovokasi bagi yang belum nonton...
Setelah gue baca novelnya, gue sempet nangis. Bahasanya indah, Islami, namun jujur saja.. gue hampir tidak pernah melihat dalam dunia nyata ada laki-laki di jaman sekarang yang tabiat ataupun sikap dan sifatnya seperti Fahri. Hampir tidak ada cacat. Begitu pula dengan Aisha, tokoh utama pemeran wanita yang di novel ini. Cantik, alim, bercadar, tajir pula. Yang beruntung adalah Fahri yang dicintai 4 wanita sekaligus, dan semuanya alim. Gue sempet terhenyak ketika si Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria, demi menyelamatkan Fahri dari penjara. Keindahan alam Mesir terpatri dengan indahnya di novel ini. "Kegarangan" alam Mesir pun juga tergambarkan dengan jelas, seperti kita sedang berada di sana, kita bisa membayangkan panasnya mesir, hausnya kita akan sumber air oase dan sifat masyarakat Islam di Mesir yang cenderung - maaf - mengkultuskan dirinya sendiri. Indahnya ayat demi ayat Kitab Suci Al-Quran yang dipaparkan juga 'mengguggah' perasaan. Apalagi gue, yang sangat minim dengan pengetahuan Kitab Suci ini.

Ketika Aisha merelakan suaminya sendiri untuk berpoligami, gue langsung membayangkan diri gue sendiri yang pasti tidak akan rela, kalau suami gue menikahi wanita lain. Fahri is one hell a lucky dude, bisa menikahi 2 wanita sekaligus. Sama sama cantik.. (digambarkan di novel sih sama sama cantik, sih) Dan Aisha sendiri? Gue melihat sosok Aisha ini adalah yang 'ter'. Tuhan pasti tersenyum waktu Dia memilih seorang Aisha dilahirkan. Minjem dari kata kata novel lain : God must be smiling when He creates Aisha.

Anyway, ketika novel ini di-filmkan... gue melihat kejanggalan-kejanggalan. Kita semua setuju bahwa novel sebagus apapun akan berbeda ketika di-film-kan. Dan lagi-lagi... ini terbukti. Agak kecewa gue ketika menonton film dengan judul yang sama dengan novel ini. Di sini si aktris Aisha (gue gak kenal dengan yang memerankan) membuat para penonton yang belum membaca novel ini melihat sosok Aisha yang sangat berbeda dengan yang di novel. Terlihat si Aisha ini tertekan jiwanya ketika dia meminta Fahri untuk menikahi Maria. Dan Maria sendiri juga terlihat cemburu. Sosok Fahri di sini menjadi sosok yang tidak bisa adil terhadap kedua wanita. Ini tidak ditulis dalam novel itu. Aisha menjadi sosok yang agak 'gila harta' karena tidak menghargai Fahri ketika Aisha membayar makan malam bersama Maria dan Ibu Maria. Menepis tangan suami ketika suami ingin membayar? Jelas tidak tergambarkan. Lalu dengan kata-kata Aisha : Tidak apa kalau saya harus tinggal di Flat biasa, tidak bisa pakai mobil stiap hari. Menurut gue menjadi sangat tidak "Aisha di novel" .

Juga ketika 'take' di luar ruangan, walaupun beberapa review profesional juga mengatakan bahwa take di ambil di India, dan karena Mesir tidak 'indah' untuk difilm-kan. Pyramid yang ada di background juga terlihat 'janggal'. Dan setelah gue baca, ternyta Pyramid itu rekayasa 'tempelan'. pantesan untanya diem aja... hihihih...

Yah... tapi overall, ceritanya sama... tentang cinta :) Walaupun film ini melambung agak jauh dari novelnya, paling enggak, gue ngeliat tempat duduk habis 100% di tiap pemutarannya selama beberapa hari ini. At least, ada 'hiburan' yang lebih layak daripada film indonesia lainnya yang horor-horor-an itu.... Lumayan.... Btw, gue ngeliat beberapa penonton juga nangis... gue sendiri nangis. Gue nangis setiap ada adegan meninggal... inget nyokab. Tapi karena kecewa film gak sama dengan novel, gue jadi gak bisa menikmati adegan demi adegan yang ditayangkan... Sayang banget....



Sunday, February 24, 2008

IdiH!!!

Nah, akhirnya gue bisa nulis-nulis lagi. Kemarin-kemarin itu, sejak gue pulang dari Surabaya menghadiri pernikahan salah satu sepupu, gue langsung tepar. Kepala pusing, badan lemas dan tiada bergairah, hidung berair, suara hilang.... (penting buat dijelasin ndak?) Anyway... akibat saya berbaring terus di tempat tidur, saya menjadi sangat tidak bergairah waktu diajak kakak buat beli hadiah buat keponakan yang ultah di Pondok Indah Mall. Tapi yah, demi keponakan... kami ke Pondok Indah Mall buat cari apapun yang ada gambar Daniel Radcliff si pemain sihir Harry Potter. Ajaibnya, begitu menginjak mall, kepala pusing saya sedikit-demi sedikit hilang... suara saya lambat laun hadir kembali... Tampaknya emang saya menderita -i've missed mall oh, so much syndrom- Entah penyakit itu ada atau tidak. Padahal di mall ya, saya ndak pernah beli atau shopping apa-apa. Cuma seneng aja liat orang lalu-lalang. Dan kebetulan mall hari itu ruame banget. Jadilah saya pening liatnya (pusing sama pening beda lho..) Tapi herannya badan saya lebih bergairah liat para oh-abg dan para tante rebutan dandan sekeren-kerennya. Kadang saya ketuker kalo liat ibu dan anak jalan.... lebih dewasa anaknya dari ibunya.

Anyway.... waktu di PIM, kami berdua mampir ke Gramedia. Ada novel yang ditumpuk rapi di bawah tulisan "Best Seller". Judulnya The Naked Traveler. Warnanya biru dan tampaknya kocak. (saya punya kebiasaan kalo liat novel dengan font tertentu, langsung 'menghakimi' isi novel tersebut, akhirnya sering salah beli...). Karena gak punya duit, saya cuma meraba-raba novel itu, lalu baca tulisan di belakang sampul, tersenyum, dan jalan lagi. Sampai pada bagian stationery... kok kepikiran ya sama novel itu? Oh well, saya sempet keluar dari gramedia, terus jalan-jalan lagi... Tapi kok tetep penasaran sama novel itu.. Ya sudah, sebelum uang saya beneran abis beli yang enggak-enggak, saya rayu kakak saya beli novelnya. (ih, ada hubungannya gak?) Untungnya kakak saya mau beli.

Di rumah, demi penghormatan, saya biarkan kakak saya membaca dulu novel itu. Begitu dia tidur, saya ambil novel di sisi tempat tidurnya, saya baca .... hasilnya..? Saya ngakak-ngakak. Itu novel ajaib banget. Bisa bikin saya minder juga. Saya ini mengklaim kalau hobi jalan-jalan... Tapi kalau dibandingin sama Trinity, saya gak ada apa-apanya banget... cuma seujung kuku kelingking kaki. (kecil banget dah pokoknya kelingking kaki saya... ). Saya juga jadi inget sama perjalanan saya yang pernah saya lakukan... Pokoknya this is a must have novel bagi mereka yang pernah jalan-jalan, pengen jalan-jalan atau sekedar membayangkan jalan-jalan... Atau cuma pengen ketawa mbayangin jalan-jalan. (ih).

Ini bukan promosi kok.. cuma berbagi review ajah.... Tapi saya ndak tau deh, kalau emang dibilang promosi... hihih....

Saturday, February 02, 2008

Kerinduan Menyeruak...

Teman, Tak terasa sudah berminggu-minggu kita tak bersapa,
Teman, batas ruang dan waktu telah memisahkan kita,
Ingatkah kamu, kala kita duduk di sini,
bercerita tentang kau dan aku,
atau hanya diam membisu, dengan pikiran kita mengembara,
ingatkah kamu, kita bicara tentang
cinta,
persahabatan,
cita-cita,
tentang kau dan aku?
Teman, hari ini aku merindukanmu,
merindukan kita bersama,
merindukan gelak tawa kita,
merindukan pembicaraan kita,
merindukan kau ada di sini,
merindukan kita menanti jawaban atas doa-doa kita.
Teman, walau jarak memisahkan kita,
semoga kita akan selalu bersama...

(dearest friend: I love you, never change, never part..... "who says life is easy, eh?" :) )

Tuesday, January 29, 2008

... Tutup Usia...

Saya termasuk orang yang sok sok "meramalkan" kepergian Mantan Presiden RI, Soeharto. Namun saya tak urung kaget juga ketika sore hari waktu nyalain TV denger bahwa Beliau sudah meninggal. Dan karena saya orang cengeng, begitu melihat tayangan perjalanan Beliau semasa hidup dan semasa menjabat Presiden, tak urung saya menangis juga.

Saya juga menangis dalam hati, ketika tayangan TV memperlihatkan kegembiraan pasangan Beliau dan First Lady mengangkat padi yang sudah di panen tinggi-tinggi. Saya tidak melihat senyum mereka, namun lebih kepada alam sekitarnya. Sejauh mata memandang, hamparan luas menguning, alam masih begitu 'bersahabat'.. Juga ketika saya melihat Almarhum mengangkat tinggi-tinggi ikan (gak tau ikan apa) yang begitu besar. Entah rekayasa atau tidak, karena saya melihat itu ikan sepertinya sudah mati ketika baru diangkat dari laut.

Tapi overall, saya melihat jasa beliau yang, bagi saya pribadi, begitu besar. Indonesia dulu dikenal di negara-negara lain. Dan kemajuan ekonomi yang begitu pesat pada eranya. Swasembada pangan, orang gak perlu antre untuk beli minyak tanah, dan entah ini benar atau tidak, dulu saya tidak pernah makan beras import. Beras Rojolele dari Cianjur sudah sangat pulen dan enak, walaupun cuma dimakan bersama garam.

Ketika melihat Putri Sulung Beliau ikut berkonprensi pers, dan secara pribadi memohon maaf apabila Ayahanda ada salah, ingatan saya melompat ketika saya kehilangan Eyang Kakung. Lalu Ibunda... Saya paham betul rasanya kehilangan seseorang yang sangat saya cintai. Untuk sekian lama saya merasa hampa.

Ironisnya, pada hari Minggu paginya, saya *tumben* baca koran Kompas. Ada artikel ketika para istri ditinggalkan oleh para suaminya. Untuk sekian menit saya termenung, mengingat-ingat seperti apa rupa ayah saya sewaktu ibunda tutup usia, bertepatan dengan hari ulang tahun ibunda. Saya mengingat saat itu ayah saya tidak mencukur jenggot dan kumisnya selama 40 hari. Badannya kurus, seperti tampak tidak terurus. Beliau hanya bekerja sebagai 'pengisi waktu luang'. Dan saya, sebagai anak yang tidak tahu diri dan tenggelam dengan kesedihan saya sendiri, saya malah meninggalkan ayah saya dengan dalih ingin bekerja, jauh di luar kota.

Kembali lagi pada artikel di Kompas, saya membaca bahwa ketika kita ditinggalkan, kita tidak terlalu merasa sepi .. ketika banyak orang melayat, memanjatkan doa agar yang meninggal diberi jalan terbaik, jalan yang lapang, dan yang ditinggalkan diberi ketabahan. Saat itu, saya sangat tabah melihat mata almarhumah terpejam untuk selamanya. Saya juga tabah melihat ketika ibunda dimandikan, lalu di kafani dan saya juga tabah mendampingi almarhumah di ambulans, yang membawa beliau ke pemakaman. Tapi saya hampir kehilangan akal sehat sewaktu melihat kain putih yang membungkus ibunda diturunkan ke liang lahat... dan pelan pelan, tanah itu menimbuni seluruh tubuhnya... Saya hampir meloncat turun hanya untuk sekedar melihat lagi wajah yang akrab menemani saya selama bertahun-tahun, dan pipi ibunda yang tiap pagi saya kecup...

Tutup Usia, meninggal apapun itu, meninggalkan goresan mendalam pada hati, bagi orang-orang yang ditinggalkan.. Selama bertahun-tahun (mungkin hingga sekarang) saya merasa saya hidup dalam kegelapan, tanpa ada pegangan... Dan saya merindukan kehadiran beliau... Moving on? Oh, saya moving on kok.. Tapi saya tetap merindukannya.... Dan saya membayangkan hidup saya bila beliau masih ada.. Apakah saya menjadi seorang seperti sekarang? Saya tidak tahu... Tapi one way or another, saya agak bersyukur ketika Yang Maha Kuasa memanggil ibunda, setelah 17 tahun menderita gagal ginjal... Saya hanya berharap, dan semoga apa yang mereka katakan bahwa beliau 'melihat' saya dari 'atas sana' adalah benar... semoga beliau melihat 'saya' yang berhasil menjalani kuliah tanpa beliau, (alhamdulillah tepat waktu saat itu), dan juga tulisan ini... Tapi.. I still miss her...

Wednesday, January 23, 2008

Till We Meet Again...

Bukan, ini bukan tanda-tanda bahwa saya akan berhenti menulis di blog ini. Ini tentang keadaan saya. Berapa dari kalian yang memutuskan untuk memberhentikan sebuah hubungan karena merasa ada ketidakcocokan? Saya sering. Dan saya lebih banyak tidak merasakan penyesalan daripada nyeselnya. Salah satunya hubungan yang ini.

Ketika kita merasa ada ketidakcocokan diantara kami berdua, saya tadinya berusaha untuk memperbaiki. Namun, itikad baik saya tidak digubris. So what should I do? Saya diamkan. Semua hal yang pernah saya lakukan untuk dia, (tentu yang baik) tidak dianggap lagi hanya karena kesalahpahaman. Apakah saya menyesal? Tadinya iya. Namun setelah dipikir, buat apa menyesali sesuatu yang tidak memberikan kontribusi apapun pada saya? Malah membuat saya menjadi pendendam, menjadikan saya jadi sosok orang yang bukan "gue banget".

Ketika ada komen mengenai hal ini, saya cukup tersenyum. Biar orang menilai seperti apa, bahkan dia pun menilai seperti apa saya. Yah, saya hanya ingin bilang, one way or another... till we meet again... in other occassion... Karena one way or another, saya yakin dia akan menyadari kesalahan pada opini nya. Saya cuma berharap, apapun yang dia putuskan ini, adalah yang terbaik untuk dia ataupun saya.


Huh?!

If you didn't care less what I Have to say, just ignore me.
It's better that way.
So, if you didn't care less for what I have to write, don't come to my site
Stop blabbing, you might get yourself hurt for what I have to say about you.
So just let me be.
Do your own way, and I'll do mine.

As simple as that :)

Friday, January 18, 2008

Keseluruhan Cerita....

Keseluruhan Cerita…

= beneran, gue gak ngerti kenapa dia bersikap begini!!

+ mungkin karena kamu kelamaan tinggal di tempat dia?

= buset, perasaan juga baru beberapa malem, dan lagi dulu dia nawarin.. Lo kan liat sendiri?

+ mungkin dia lagi ada masalah, gak ada sangkut pautnya sama lo…

= eh! Lo tau gak dia kenapa? Kayanya dia jutek banget sama gue beberapa hari belakangan ini?!

$ Lo dimana sekarang?

= gue ditempat laen lah, emang ada rencana keluar dari rumah dia sih! Tapi yah.. gak gini caranya kali. Ngecuekin gue, dia!

$ Entar deh, gue tanya…

= mm… gue ada salah sama lo ya? Cerita kek… lo berubah banget!

@ gak ada yang salah sih, gue kecewa aja! Lo kan tau kemarenan itu gue lagi masuk rumah sakit, tapi lo malah ribut sama urusan lo sendiri!

= ooo.. gitu… maaf deh ya? Beneran.. emang pas gue lagi ribet banget tuh… beneran minta maaf deh.. Gimana neh, biar bisa baek lage?

@ gak usah dibahas dulu deh, gue males ngomongnya sekarang.

+ udah jelas blon tuh, masalah lo sama dia?

= udeh.. dah clear … ternyata Cuma masalah kecil doangan… dah diomongin kok… santé aje…

+ ya udah deh, sukur!

= eh, gue kok ngerasa tetep dicuekin ye? Jangan-jangan ada yang salah lagi nih!? Sedih gue, masalah gini doangan kok keknya berlarut-larut sih…

% ya, maklum aja lah.. baru recovery gitu lho…

= iya sih, tapi maksud gue, dia jadi berubah gitu ya? Liat deh, jadi gimana gitu… kek caper gitu… eh gue ngerasa bersalah neh ngomong gini… abis lu yang deket sih, sekarang ini..

% masa dia berubah?

= gue sih ngeliatnya gitu ya… ini bukan dia yang gue kenal nih! Biasanya dia gak gini-gini amat.. Eh, padahal dulu dia sebel ye sama loe? Sekarang kok jadi deket sih? Hahaha…

% hehe, iya juga sih… jadi deket nih sama dia! Keberuntungan gue kali!

= bukannya apa-apa ya, jadi manja banget.. nggak dia banget deh.. eh, bukannya gue gak suka ya, maksud gue, gue sih seneng aja kalo dia sekarang deket sama lo, bikin dia hepi, tapi ya.. ini bukan dia banget lah!

% ngerti sih, ntar lah gue pikirin!

= apanya yang dipikirin? Gue cuma… maaf kata nih, gak suka aja dia jadi ‘lemah’ gini.

@ lo ngapain ngelarang dia manjain gue? Emang gue salah kalo gue pengen manja? Emang salah gue kalo pengen curhat?

= apaan sih? Siapa yang larang dia manjain elo?

@ dia yang bilang! Lo bilang ke dia jangan manjain gue! Emang kenapa sih lu? Sirik?

= aduh! Dia ngomong apaan lagi?

@ dia bilang lo juga bilang ke dia, jangan sampe gue nyakitin dia! Maksud lo apa?!

= hah? Itu cerita lalu kali! Waktu dia ngejar-ngejar lo, inget gak lu? Dan lo gak suka dengan caranya dia ngasih salam ke lo lewat orang laen, padahal pas ketemu sama lo dia diem aja! Gue bilang kaya gitu ke dia, supaya dia bersikap biasa aja! Karena dia tiba-tiba ilang dari peredaran. Emang kenapa kalo lo nolak dia? Dia kalo seneng sama orang, resikonya kan ditolak. Biasa aja kan? Itu maksud gue bilang ke dia! Lo kenapa sih?

@ gue gak suka aja lo nanya-nanya ke dia! Lu kaya nikam gue dari belakang!

= buset, segitu parahnya lo nilai gue? Padahal maksud gue baek! Supaya lo sama dia gak saling diem-dieman. Dan soal dia bilang gue ngelarang dia merhatiin elu, gue berani bilang kalo gue gak ngelarang dia! Gue bilang gue malah seneng lo seneng!

= kok bisa ya… dia memutarbalikkan fakta kaya gitu?

+ ya, mungkin dia ngerasa, kalau dia memutarbalikkan fakta seperti itu hubungan lo sama dia jadi pecah.. kan si satunya ini bisa masuk gampang nih… walhasil dia dapet perhatiannya seutuhnya kan…

= tapi maksud gue, gue sama dia kenal bertaon taon gitu lho, masa iya sih percaya sama orang gitu aja… aneh..!!

+ orang ketiga kan gampang masuknya, kalau yang tadinya solid ini pecah gitu aja.. bloon lu ah!

= ya iya sih, tapi gak abis pikir aja.. gue ngomong gitu ke dia kan gak gitu.. kok diputerin gitu lho..

+ makanya! Jangan percaya sama orang gitu aja!

= padahal maksud gue…

+ itu lah lo! Selalu punya maksud buat ‘memperbaiki’ sesuatu! Lo tuh bukan Tuhan! Bukan Insinyur teknik! Gak semuanya bisa diperbaiki di dunia ini! Udah! Laen kali, kagak usah ikut campur urusan orang! Buat pelajaran nih!

= eh, tapi gak Cuma gue kok yang bingung sama perubahan sikap dia…

+ barusan denger gak sih omongan gue? Biarin aja! Toh niat lo udah baik, lo udah minta maap baek baek ke dia, ataupun lewat orang laen. Kagak digubris? Urusan dia! Kok lo sewot!

= ah.. iya juga sih…. Iye deh iye… mending diem deh gue..!

+ nah geto!! Capek sendiri lo ntar mikirin orang yang gak mikirin lo! Emang enak merhatiin orang padahal dia kagak mao diperhatiin? Capeeee…

= hehehehe.. iya dah !!! akuuurrr!!

(Sudah ya, gue tidak mau lagi memperpanjang.. jadi please.. buat semua yang pengen tau cerita lengkapnya, ini udah yang paling lengkap-kap! Jadi jangan Tanya lagi… :D )

EneG gak sih Loe?!

Eneg gak sih loe, ketika orang pada Tanya ada apa yang terjadi antara gue sama dia?

Eneg gak sih loe, ketika orang pada Tanya ada apa yang terjadi antara dia dan dia?

Eneg gak sih loe, ketika gue harus menjelaskan ke orang lain berkali-kali bahwa gak ada apa-apa yang terjadi di antara gue sama dia?

Eneg gak sih loe, ketika orang Tanya kenapa dia berubah?

Eneg gak sih loe, ketika orang pada bilang dia menjadi munafik?

Eneg gak sih loe, ketika orang pada bilang dia mulut tampah dan harusnya gak dipercayai?

GokiL…. Sumpah gue ENEG!!!!

Daripada VS Lebih Baik


Daripada kamu harus menerima maafku, Lebih baik kamu bilang kamu kecewa; Supaya kamu bisa bilang bahwa tidak ada yang salah,

Daripada kamu tidak mengerti arti dari ucapanku padanya, Lebih baik kamu percaya pada ucapan orang lain; supaya mempermudah kamu untuk menyalahkanku,

Daripada kamu harus mempercayai niatan baikku, Lebih baik kamu menghapuskan semua itu; supaya kamu tidak kehilangan dia

Daripada kamu harus mengulang-ulang cerita yang sama, Lebih baik kamu mengabarkan pada semua tentang apa yang terjadi; supaya orang bisa mengerti dirimu,

Daripada kamu harus mengalah dan mengerti bahwa aku tidak ingin memperpanjang ini, Lebih baik kamu bilang aku berbelit; hanya untuk memuaskan egomu,

Daripada kamu dibilang munafik, Lebih baik kamu mengatakan bahwa aku menikam-mu dari belakang; supaya kamu tidak kehilangan muka,

Daripada kamu melihatku yang mengamatimu dari kejauhan, Lebih baik kamu mengikutiku untuk menunjukkan keberadaanmu;

Well,

Daripada aku bersedih melihatmu berubah menjadi seseorang yang bukan dirimu, Lebih baik kita tidak usah lagi berjalan berdampingan….

(Januari, 2008)

Thursday, January 17, 2008

Menghitung Hari...

Maaf, bukan pengen ngejiplak judul lagu yang dinyanyikan sama Krisadayanti, tapi memang gue sedang menghitung hari. Sejak 17 hari lalu setelah tahun 2008 dimulai, gue sudah memiliki berbagai cita-cita mulia yang gue inginkan terlaksana di tahun 2008 ini. Eh, mulia buat gue tentu saja, tidak berarti mulia untuk semua orang.

Tapi soal cita-cita ini juga perlu ditanyakan. Gue membaca berbagai majalah yang hadir di akhir tahun, beberapa minggu lalu. Bukan karena pengen membaca artikelnya, tapi lebih cenderung ingin dapet hadiah berupa notebook atau agenda atau organizer yang lucu-lucu. Tapi karena sudah beli majalahnya, boong aja kalau gue gak baca artikel-artikel yang ada di dalam majalah itu. Dan dari 5 majalah yang gue beli ... (iya, 5) gue selalu melihat : methamorph your self atau make some resolution, atau change yourself! Intinya adalah : mari kita rubah diri kita (menjadi lebih baik tentunya) di awal tahun ini. Nah, ini jadi menimbulkan pertanyaan buat gue.

"apakah perubahan yang baik itu harus diawali pada awal tahun?"

Kalian pasti setuju jawabannya adalah tidak. Karena, beberapa waktu lalu gue sempet menulis soal perubahan. Perlukah dibahas lagi? tentu tidak. Toh kalian sudah tau perubahan itu pasti terjadi kok. Jadi gak perlu dipanjanglebarkan.

Kenapa gue menghitung hari? Karena inilah jeleknya gue. Gue selalu menepatkan sesuatu sebagai "starting point". Entah itu tahun baru, Idul Fitri atau apapun, sebagai langkah awal menuju perubahan. Contoh deh. Hari Sabtu adalah hari dimana gue harus kuliah, menjejalkan otak pada omongan dosen dan berdoa semoga gue bisa ngerti apa yang Beliau omongin serta berdoa lebih keras lagi ketika sudah tiba musim ujian. Nah, tiap hari Sabtu, selalu ada tugas yang dibawa pulang untuk dikumpulkan pada minggu depannya. Istilahnya PR. Seharusnya, gue bisa ngerjain tugas itu pada hari Minggu kan? Atau Senin. Sehingga pada hari Sabtunya gue sudah siap lagi melakukan rutinitas Sabtu. Kenyataannya adalah, gue selalu beranggapan ada hari esok. "Buat apa mengerjakan sesuatu sekarang, bila bisa dikerjakan nanti?" I know... I know... jelek banget emang... Nah disinilah... gue selalu menetapkan hari 'starting point'. Hari Jumat adalah batas akhir tugas itu selesai. Jadi ya... kerjain aja hari Jumat. Keteteran? Sudah pasti. Sama juga ketika gue menganggap hari jadi gue sebagai "starting point" untuk melakukan perubahan itu.

Buat gue, perubahan yang gue 'canangkan' pada saat tahun baru kemarin menjadi sia-sia belaka, karena gue selalu beranggapan bahwa perubahan dilakukan ketika gue mendapat 'ilham' untuk berubah. Ketika gue sedang "semangat' untuk melakukan perubahan. Jadi, awal tahun bukan sesuatu yang pasti untuk melakukan perubahan. Karena, setelah awal tahun itu lewat menjadi tanggal 17 januari seperti hari ini, toh resolusi itu belum terpenuhi. Hihihih...

Jadi apa yang salah ya? Memanajemen waktu adalah pekerjaan yang sulit. Pun bagi orang pengangguran seperti gue ini. Padahal kegiatan yang pasti gue lakukan adalah cuma hari Sabtu. Berbeda dengan orang lain diluar sana yang punya seabreg kegiatan. Dan mereka bisa lho, mencanangkan atau merencanakan hari-hari mereka dengan baik. Misalnya nih: Hari Senin, jadwal utamanya adalah meeting, Hari Selasa, jadwal utamanya adalah menemui klien, Hari Rabu waktunya agak santai dan hang out karena "ladies day" (bagi kaum hawa) dan bagi kaum Adam, juga hang out karena mereka pasti menemui banyak ladies di tempat hang out. (ngaku luuuu...) Hari Kamis ke Gym, untuk fitness. Hari Jumat hang out lagi, untuk menyambut datangnya weekend. Hari Sabtu, ke salon, atau bengkel, Hari Minggu, santai di rumah sama keluarga. Sedangkan gue? jangan tanya deh. Dari hari Minggu - Jumat adalah waktu dimana gue bisa sendirian di rumah, menulis (sebagai hobby) atau sekedar bersosialisasi dengan para chatters di dunia maya. Hmmm... ada yang salah di sini.

Tapi gue sadar, yang sepenuhnya salah adalah gue. Gue sudah berada di zona nyaman banget, sehingga ketika gue sadar harus melepaskan diri dari zona itu, gue takut. Takut kalau gue akan kehilangan zona nyaman ini. Tulisan ini tentang apa sih? Sebenernya gue cuma pengen mengungkapkan pada diri sendiri, bahwa banyak waktu gue yang terbuang sia-sia. Ini cuma buat merefleksikan diri saja. Bahwa ternyata manajemen waktu itu perlu. Mumpung masih single, (which I hope not for long), mumpung masih bisa berpikir dan masih bisa belajar lagi.

Yuk, jangan canangkan 'starting point' lagi! Apa yang bisa kita lakukan sekarang, lebih baik dilakukan, daripada nunggu entar... Kita gak tau sampai kapan kita bisa hidup. Jadi, yuk, berubah. Demi kita sendiri.

Nah, mau liat gue berubah? Tunggu setelah hari sabtu ya... (lho.. kok?) hihihihihi....


Wednesday, January 16, 2008

kekasih...

mari sini kekasih,
kita jelang saat ini berdua,
menanti mentari terbit,
memandang jauh ke ufuk,
menanti hari indah yang terbentang,
menyulam hari-hari bersama,
meniti tapak demi setapak kehidupan,
untuk kemudian,
meninggalkan dunia bersama...

-- i want to spend the rest of my life being in love with thee....--