Wednesday, March 19, 2008

Tiada JuduL

Hari ini, gue ngerasa capek, lahir bathin. Ada rasa kecewa dalam diri, ketika ada sesuatu hal yang harusnya bisa terselesaikan hari ini, namun karena fisik gak memungkinkan, gue terpaksa menunda.

Beberapa waktu lalu gue terobsesi dengan blog seseorang, dia menuturkan kata-kata yang sangat baik, seolah gue bisa mengerti jiwanya. Seolah gue berada di sampingnya dan mendengarkan dia bercerita. Sayangnya, sedikit dari jiwa gue berontak terhadap blog dia. Ketika dia mengisahkan seseorang yg tidak perlu lagi diceritakan. Tapi sekali lagi itu hak dia. Hak dia pula untuk mencintai seseorang yang telah pergi.

Penorehan luka telah begitu dalam, bernanah. Dan bagai orang yang mengidap diabetis, luka itu sulit untuk diobati. Dan gue sekali lagi tidak punya hak untuk menghakimi cinta yang bertepuk sebelah tangan itu.

Gue hanya berharap siapapun yang memiliki blog itu sadar, bahwa dia masih memiliki kehidupan yang lain dan masih ada di luar sana yang mencintai dia, seperti kekasihku yang mencintai dan menerima semua kekurangan dan kelebihan gue.

Wednesday, March 05, 2008

ReVieWs!!!

Beberapa waktu lalu gue berkesempatan buat melakukan aktivitas-aktivitas yang gue sukai;
1. baca buku/novel
2. nonton film.

Nah, beberapa waktu lalu gue sempet terprovokasi dengan adanya beberapa teman yang ngomong buku "Ayat-Ayat Cinta" dan karena gue sempet liat bahwa filmnya akan segera ditayangkan, gue sengaja beli novel ini. Ini review pribadi gue aja, lho ya.. bukan untuk memprovokasi bagi yang belum nonton...
Setelah gue baca novelnya, gue sempet nangis. Bahasanya indah, Islami, namun jujur saja.. gue hampir tidak pernah melihat dalam dunia nyata ada laki-laki di jaman sekarang yang tabiat ataupun sikap dan sifatnya seperti Fahri. Hampir tidak ada cacat. Begitu pula dengan Aisha, tokoh utama pemeran wanita yang di novel ini. Cantik, alim, bercadar, tajir pula. Yang beruntung adalah Fahri yang dicintai 4 wanita sekaligus, dan semuanya alim. Gue sempet terhenyak ketika si Aisha meminta Fahri untuk menikahi Maria, demi menyelamatkan Fahri dari penjara. Keindahan alam Mesir terpatri dengan indahnya di novel ini. "Kegarangan" alam Mesir pun juga tergambarkan dengan jelas, seperti kita sedang berada di sana, kita bisa membayangkan panasnya mesir, hausnya kita akan sumber air oase dan sifat masyarakat Islam di Mesir yang cenderung - maaf - mengkultuskan dirinya sendiri. Indahnya ayat demi ayat Kitab Suci Al-Quran yang dipaparkan juga 'mengguggah' perasaan. Apalagi gue, yang sangat minim dengan pengetahuan Kitab Suci ini.

Ketika Aisha merelakan suaminya sendiri untuk berpoligami, gue langsung membayangkan diri gue sendiri yang pasti tidak akan rela, kalau suami gue menikahi wanita lain. Fahri is one hell a lucky dude, bisa menikahi 2 wanita sekaligus. Sama sama cantik.. (digambarkan di novel sih sama sama cantik, sih) Dan Aisha sendiri? Gue melihat sosok Aisha ini adalah yang 'ter'. Tuhan pasti tersenyum waktu Dia memilih seorang Aisha dilahirkan. Minjem dari kata kata novel lain : God must be smiling when He creates Aisha.

Anyway, ketika novel ini di-filmkan... gue melihat kejanggalan-kejanggalan. Kita semua setuju bahwa novel sebagus apapun akan berbeda ketika di-film-kan. Dan lagi-lagi... ini terbukti. Agak kecewa gue ketika menonton film dengan judul yang sama dengan novel ini. Di sini si aktris Aisha (gue gak kenal dengan yang memerankan) membuat para penonton yang belum membaca novel ini melihat sosok Aisha yang sangat berbeda dengan yang di novel. Terlihat si Aisha ini tertekan jiwanya ketika dia meminta Fahri untuk menikahi Maria. Dan Maria sendiri juga terlihat cemburu. Sosok Fahri di sini menjadi sosok yang tidak bisa adil terhadap kedua wanita. Ini tidak ditulis dalam novel itu. Aisha menjadi sosok yang agak 'gila harta' karena tidak menghargai Fahri ketika Aisha membayar makan malam bersama Maria dan Ibu Maria. Menepis tangan suami ketika suami ingin membayar? Jelas tidak tergambarkan. Lalu dengan kata-kata Aisha : Tidak apa kalau saya harus tinggal di Flat biasa, tidak bisa pakai mobil stiap hari. Menurut gue menjadi sangat tidak "Aisha di novel" .

Juga ketika 'take' di luar ruangan, walaupun beberapa review profesional juga mengatakan bahwa take di ambil di India, dan karena Mesir tidak 'indah' untuk difilm-kan. Pyramid yang ada di background juga terlihat 'janggal'. Dan setelah gue baca, ternyta Pyramid itu rekayasa 'tempelan'. pantesan untanya diem aja... hihihih...

Yah... tapi overall, ceritanya sama... tentang cinta :) Walaupun film ini melambung agak jauh dari novelnya, paling enggak, gue ngeliat tempat duduk habis 100% di tiap pemutarannya selama beberapa hari ini. At least, ada 'hiburan' yang lebih layak daripada film indonesia lainnya yang horor-horor-an itu.... Lumayan.... Btw, gue ngeliat beberapa penonton juga nangis... gue sendiri nangis. Gue nangis setiap ada adegan meninggal... inget nyokab. Tapi karena kecewa film gak sama dengan novel, gue jadi gak bisa menikmati adegan demi adegan yang ditayangkan... Sayang banget....



Sunday, February 24, 2008

IdiH!!!

Nah, akhirnya gue bisa nulis-nulis lagi. Kemarin-kemarin itu, sejak gue pulang dari Surabaya menghadiri pernikahan salah satu sepupu, gue langsung tepar. Kepala pusing, badan lemas dan tiada bergairah, hidung berair, suara hilang.... (penting buat dijelasin ndak?) Anyway... akibat saya berbaring terus di tempat tidur, saya menjadi sangat tidak bergairah waktu diajak kakak buat beli hadiah buat keponakan yang ultah di Pondok Indah Mall. Tapi yah, demi keponakan... kami ke Pondok Indah Mall buat cari apapun yang ada gambar Daniel Radcliff si pemain sihir Harry Potter. Ajaibnya, begitu menginjak mall, kepala pusing saya sedikit-demi sedikit hilang... suara saya lambat laun hadir kembali... Tampaknya emang saya menderita -i've missed mall oh, so much syndrom- Entah penyakit itu ada atau tidak. Padahal di mall ya, saya ndak pernah beli atau shopping apa-apa. Cuma seneng aja liat orang lalu-lalang. Dan kebetulan mall hari itu ruame banget. Jadilah saya pening liatnya (pusing sama pening beda lho..) Tapi herannya badan saya lebih bergairah liat para oh-abg dan para tante rebutan dandan sekeren-kerennya. Kadang saya ketuker kalo liat ibu dan anak jalan.... lebih dewasa anaknya dari ibunya.

Anyway.... waktu di PIM, kami berdua mampir ke Gramedia. Ada novel yang ditumpuk rapi di bawah tulisan "Best Seller". Judulnya The Naked Traveler. Warnanya biru dan tampaknya kocak. (saya punya kebiasaan kalo liat novel dengan font tertentu, langsung 'menghakimi' isi novel tersebut, akhirnya sering salah beli...). Karena gak punya duit, saya cuma meraba-raba novel itu, lalu baca tulisan di belakang sampul, tersenyum, dan jalan lagi. Sampai pada bagian stationery... kok kepikiran ya sama novel itu? Oh well, saya sempet keluar dari gramedia, terus jalan-jalan lagi... Tapi kok tetep penasaran sama novel itu.. Ya sudah, sebelum uang saya beneran abis beli yang enggak-enggak, saya rayu kakak saya beli novelnya. (ih, ada hubungannya gak?) Untungnya kakak saya mau beli.

Di rumah, demi penghormatan, saya biarkan kakak saya membaca dulu novel itu. Begitu dia tidur, saya ambil novel di sisi tempat tidurnya, saya baca .... hasilnya..? Saya ngakak-ngakak. Itu novel ajaib banget. Bisa bikin saya minder juga. Saya ini mengklaim kalau hobi jalan-jalan... Tapi kalau dibandingin sama Trinity, saya gak ada apa-apanya banget... cuma seujung kuku kelingking kaki. (kecil banget dah pokoknya kelingking kaki saya... ). Saya juga jadi inget sama perjalanan saya yang pernah saya lakukan... Pokoknya this is a must have novel bagi mereka yang pernah jalan-jalan, pengen jalan-jalan atau sekedar membayangkan jalan-jalan... Atau cuma pengen ketawa mbayangin jalan-jalan. (ih).

Ini bukan promosi kok.. cuma berbagi review ajah.... Tapi saya ndak tau deh, kalau emang dibilang promosi... hihih....

Saturday, February 02, 2008

Kerinduan Menyeruak...

Teman, Tak terasa sudah berminggu-minggu kita tak bersapa,
Teman, batas ruang dan waktu telah memisahkan kita,
Ingatkah kamu, kala kita duduk di sini,
bercerita tentang kau dan aku,
atau hanya diam membisu, dengan pikiran kita mengembara,
ingatkah kamu, kita bicara tentang
cinta,
persahabatan,
cita-cita,
tentang kau dan aku?
Teman, hari ini aku merindukanmu,
merindukan kita bersama,
merindukan gelak tawa kita,
merindukan pembicaraan kita,
merindukan kau ada di sini,
merindukan kita menanti jawaban atas doa-doa kita.
Teman, walau jarak memisahkan kita,
semoga kita akan selalu bersama...

(dearest friend: I love you, never change, never part..... "who says life is easy, eh?" :) )

Tuesday, January 29, 2008

... Tutup Usia...

Saya termasuk orang yang sok sok "meramalkan" kepergian Mantan Presiden RI, Soeharto. Namun saya tak urung kaget juga ketika sore hari waktu nyalain TV denger bahwa Beliau sudah meninggal. Dan karena saya orang cengeng, begitu melihat tayangan perjalanan Beliau semasa hidup dan semasa menjabat Presiden, tak urung saya menangis juga.

Saya juga menangis dalam hati, ketika tayangan TV memperlihatkan kegembiraan pasangan Beliau dan First Lady mengangkat padi yang sudah di panen tinggi-tinggi. Saya tidak melihat senyum mereka, namun lebih kepada alam sekitarnya. Sejauh mata memandang, hamparan luas menguning, alam masih begitu 'bersahabat'.. Juga ketika saya melihat Almarhum mengangkat tinggi-tinggi ikan (gak tau ikan apa) yang begitu besar. Entah rekayasa atau tidak, karena saya melihat itu ikan sepertinya sudah mati ketika baru diangkat dari laut.

Tapi overall, saya melihat jasa beliau yang, bagi saya pribadi, begitu besar. Indonesia dulu dikenal di negara-negara lain. Dan kemajuan ekonomi yang begitu pesat pada eranya. Swasembada pangan, orang gak perlu antre untuk beli minyak tanah, dan entah ini benar atau tidak, dulu saya tidak pernah makan beras import. Beras Rojolele dari Cianjur sudah sangat pulen dan enak, walaupun cuma dimakan bersama garam.

Ketika melihat Putri Sulung Beliau ikut berkonprensi pers, dan secara pribadi memohon maaf apabila Ayahanda ada salah, ingatan saya melompat ketika saya kehilangan Eyang Kakung. Lalu Ibunda... Saya paham betul rasanya kehilangan seseorang yang sangat saya cintai. Untuk sekian lama saya merasa hampa.

Ironisnya, pada hari Minggu paginya, saya *tumben* baca koran Kompas. Ada artikel ketika para istri ditinggalkan oleh para suaminya. Untuk sekian menit saya termenung, mengingat-ingat seperti apa rupa ayah saya sewaktu ibunda tutup usia, bertepatan dengan hari ulang tahun ibunda. Saya mengingat saat itu ayah saya tidak mencukur jenggot dan kumisnya selama 40 hari. Badannya kurus, seperti tampak tidak terurus. Beliau hanya bekerja sebagai 'pengisi waktu luang'. Dan saya, sebagai anak yang tidak tahu diri dan tenggelam dengan kesedihan saya sendiri, saya malah meninggalkan ayah saya dengan dalih ingin bekerja, jauh di luar kota.

Kembali lagi pada artikel di Kompas, saya membaca bahwa ketika kita ditinggalkan, kita tidak terlalu merasa sepi .. ketika banyak orang melayat, memanjatkan doa agar yang meninggal diberi jalan terbaik, jalan yang lapang, dan yang ditinggalkan diberi ketabahan. Saat itu, saya sangat tabah melihat mata almarhumah terpejam untuk selamanya. Saya juga tabah melihat ketika ibunda dimandikan, lalu di kafani dan saya juga tabah mendampingi almarhumah di ambulans, yang membawa beliau ke pemakaman. Tapi saya hampir kehilangan akal sehat sewaktu melihat kain putih yang membungkus ibunda diturunkan ke liang lahat... dan pelan pelan, tanah itu menimbuni seluruh tubuhnya... Saya hampir meloncat turun hanya untuk sekedar melihat lagi wajah yang akrab menemani saya selama bertahun-tahun, dan pipi ibunda yang tiap pagi saya kecup...

Tutup Usia, meninggal apapun itu, meninggalkan goresan mendalam pada hati, bagi orang-orang yang ditinggalkan.. Selama bertahun-tahun (mungkin hingga sekarang) saya merasa saya hidup dalam kegelapan, tanpa ada pegangan... Dan saya merindukan kehadiran beliau... Moving on? Oh, saya moving on kok.. Tapi saya tetap merindukannya.... Dan saya membayangkan hidup saya bila beliau masih ada.. Apakah saya menjadi seorang seperti sekarang? Saya tidak tahu... Tapi one way or another, saya agak bersyukur ketika Yang Maha Kuasa memanggil ibunda, setelah 17 tahun menderita gagal ginjal... Saya hanya berharap, dan semoga apa yang mereka katakan bahwa beliau 'melihat' saya dari 'atas sana' adalah benar... semoga beliau melihat 'saya' yang berhasil menjalani kuliah tanpa beliau, (alhamdulillah tepat waktu saat itu), dan juga tulisan ini... Tapi.. I still miss her...

Wednesday, January 23, 2008

Till We Meet Again...

Bukan, ini bukan tanda-tanda bahwa saya akan berhenti menulis di blog ini. Ini tentang keadaan saya. Berapa dari kalian yang memutuskan untuk memberhentikan sebuah hubungan karena merasa ada ketidakcocokan? Saya sering. Dan saya lebih banyak tidak merasakan penyesalan daripada nyeselnya. Salah satunya hubungan yang ini.

Ketika kita merasa ada ketidakcocokan diantara kami berdua, saya tadinya berusaha untuk memperbaiki. Namun, itikad baik saya tidak digubris. So what should I do? Saya diamkan. Semua hal yang pernah saya lakukan untuk dia, (tentu yang baik) tidak dianggap lagi hanya karena kesalahpahaman. Apakah saya menyesal? Tadinya iya. Namun setelah dipikir, buat apa menyesali sesuatu yang tidak memberikan kontribusi apapun pada saya? Malah membuat saya menjadi pendendam, menjadikan saya jadi sosok orang yang bukan "gue banget".

Ketika ada komen mengenai hal ini, saya cukup tersenyum. Biar orang menilai seperti apa, bahkan dia pun menilai seperti apa saya. Yah, saya hanya ingin bilang, one way or another... till we meet again... in other occassion... Karena one way or another, saya yakin dia akan menyadari kesalahan pada opini nya. Saya cuma berharap, apapun yang dia putuskan ini, adalah yang terbaik untuk dia ataupun saya.


Huh?!

If you didn't care less what I Have to say, just ignore me.
It's better that way.
So, if you didn't care less for what I have to write, don't come to my site
Stop blabbing, you might get yourself hurt for what I have to say about you.
So just let me be.
Do your own way, and I'll do mine.

As simple as that :)

Friday, January 18, 2008

Keseluruhan Cerita....

Keseluruhan Cerita…

= beneran, gue gak ngerti kenapa dia bersikap begini!!

+ mungkin karena kamu kelamaan tinggal di tempat dia?

= buset, perasaan juga baru beberapa malem, dan lagi dulu dia nawarin.. Lo kan liat sendiri?

+ mungkin dia lagi ada masalah, gak ada sangkut pautnya sama lo…

= eh! Lo tau gak dia kenapa? Kayanya dia jutek banget sama gue beberapa hari belakangan ini?!

$ Lo dimana sekarang?

= gue ditempat laen lah, emang ada rencana keluar dari rumah dia sih! Tapi yah.. gak gini caranya kali. Ngecuekin gue, dia!

$ Entar deh, gue tanya…

= mm… gue ada salah sama lo ya? Cerita kek… lo berubah banget!

@ gak ada yang salah sih, gue kecewa aja! Lo kan tau kemarenan itu gue lagi masuk rumah sakit, tapi lo malah ribut sama urusan lo sendiri!

= ooo.. gitu… maaf deh ya? Beneran.. emang pas gue lagi ribet banget tuh… beneran minta maaf deh.. Gimana neh, biar bisa baek lage?

@ gak usah dibahas dulu deh, gue males ngomongnya sekarang.

+ udah jelas blon tuh, masalah lo sama dia?

= udeh.. dah clear … ternyata Cuma masalah kecil doangan… dah diomongin kok… santé aje…

+ ya udah deh, sukur!

= eh, gue kok ngerasa tetep dicuekin ye? Jangan-jangan ada yang salah lagi nih!? Sedih gue, masalah gini doangan kok keknya berlarut-larut sih…

% ya, maklum aja lah.. baru recovery gitu lho…

= iya sih, tapi maksud gue, dia jadi berubah gitu ya? Liat deh, jadi gimana gitu… kek caper gitu… eh gue ngerasa bersalah neh ngomong gini… abis lu yang deket sih, sekarang ini..

% masa dia berubah?

= gue sih ngeliatnya gitu ya… ini bukan dia yang gue kenal nih! Biasanya dia gak gini-gini amat.. Eh, padahal dulu dia sebel ye sama loe? Sekarang kok jadi deket sih? Hahaha…

% hehe, iya juga sih… jadi deket nih sama dia! Keberuntungan gue kali!

= bukannya apa-apa ya, jadi manja banget.. nggak dia banget deh.. eh, bukannya gue gak suka ya, maksud gue, gue sih seneng aja kalo dia sekarang deket sama lo, bikin dia hepi, tapi ya.. ini bukan dia banget lah!

% ngerti sih, ntar lah gue pikirin!

= apanya yang dipikirin? Gue cuma… maaf kata nih, gak suka aja dia jadi ‘lemah’ gini.

@ lo ngapain ngelarang dia manjain gue? Emang gue salah kalo gue pengen manja? Emang salah gue kalo pengen curhat?

= apaan sih? Siapa yang larang dia manjain elo?

@ dia yang bilang! Lo bilang ke dia jangan manjain gue! Emang kenapa sih lu? Sirik?

= aduh! Dia ngomong apaan lagi?

@ dia bilang lo juga bilang ke dia, jangan sampe gue nyakitin dia! Maksud lo apa?!

= hah? Itu cerita lalu kali! Waktu dia ngejar-ngejar lo, inget gak lu? Dan lo gak suka dengan caranya dia ngasih salam ke lo lewat orang laen, padahal pas ketemu sama lo dia diem aja! Gue bilang kaya gitu ke dia, supaya dia bersikap biasa aja! Karena dia tiba-tiba ilang dari peredaran. Emang kenapa kalo lo nolak dia? Dia kalo seneng sama orang, resikonya kan ditolak. Biasa aja kan? Itu maksud gue bilang ke dia! Lo kenapa sih?

@ gue gak suka aja lo nanya-nanya ke dia! Lu kaya nikam gue dari belakang!

= buset, segitu parahnya lo nilai gue? Padahal maksud gue baek! Supaya lo sama dia gak saling diem-dieman. Dan soal dia bilang gue ngelarang dia merhatiin elu, gue berani bilang kalo gue gak ngelarang dia! Gue bilang gue malah seneng lo seneng!

= kok bisa ya… dia memutarbalikkan fakta kaya gitu?

+ ya, mungkin dia ngerasa, kalau dia memutarbalikkan fakta seperti itu hubungan lo sama dia jadi pecah.. kan si satunya ini bisa masuk gampang nih… walhasil dia dapet perhatiannya seutuhnya kan…

= tapi maksud gue, gue sama dia kenal bertaon taon gitu lho, masa iya sih percaya sama orang gitu aja… aneh..!!

+ orang ketiga kan gampang masuknya, kalau yang tadinya solid ini pecah gitu aja.. bloon lu ah!

= ya iya sih, tapi gak abis pikir aja.. gue ngomong gitu ke dia kan gak gitu.. kok diputerin gitu lho..

+ makanya! Jangan percaya sama orang gitu aja!

= padahal maksud gue…

+ itu lah lo! Selalu punya maksud buat ‘memperbaiki’ sesuatu! Lo tuh bukan Tuhan! Bukan Insinyur teknik! Gak semuanya bisa diperbaiki di dunia ini! Udah! Laen kali, kagak usah ikut campur urusan orang! Buat pelajaran nih!

= eh, tapi gak Cuma gue kok yang bingung sama perubahan sikap dia…

+ barusan denger gak sih omongan gue? Biarin aja! Toh niat lo udah baik, lo udah minta maap baek baek ke dia, ataupun lewat orang laen. Kagak digubris? Urusan dia! Kok lo sewot!

= ah.. iya juga sih…. Iye deh iye… mending diem deh gue..!

+ nah geto!! Capek sendiri lo ntar mikirin orang yang gak mikirin lo! Emang enak merhatiin orang padahal dia kagak mao diperhatiin? Capeeee…

= hehehehe.. iya dah !!! akuuurrr!!

(Sudah ya, gue tidak mau lagi memperpanjang.. jadi please.. buat semua yang pengen tau cerita lengkapnya, ini udah yang paling lengkap-kap! Jadi jangan Tanya lagi… :D )

EneG gak sih Loe?!

Eneg gak sih loe, ketika orang pada Tanya ada apa yang terjadi antara gue sama dia?

Eneg gak sih loe, ketika orang pada Tanya ada apa yang terjadi antara dia dan dia?

Eneg gak sih loe, ketika gue harus menjelaskan ke orang lain berkali-kali bahwa gak ada apa-apa yang terjadi di antara gue sama dia?

Eneg gak sih loe, ketika orang Tanya kenapa dia berubah?

Eneg gak sih loe, ketika orang pada bilang dia menjadi munafik?

Eneg gak sih loe, ketika orang pada bilang dia mulut tampah dan harusnya gak dipercayai?

GokiL…. Sumpah gue ENEG!!!!

Daripada VS Lebih Baik


Daripada kamu harus menerima maafku, Lebih baik kamu bilang kamu kecewa; Supaya kamu bisa bilang bahwa tidak ada yang salah,

Daripada kamu tidak mengerti arti dari ucapanku padanya, Lebih baik kamu percaya pada ucapan orang lain; supaya mempermudah kamu untuk menyalahkanku,

Daripada kamu harus mempercayai niatan baikku, Lebih baik kamu menghapuskan semua itu; supaya kamu tidak kehilangan dia

Daripada kamu harus mengulang-ulang cerita yang sama, Lebih baik kamu mengabarkan pada semua tentang apa yang terjadi; supaya orang bisa mengerti dirimu,

Daripada kamu harus mengalah dan mengerti bahwa aku tidak ingin memperpanjang ini, Lebih baik kamu bilang aku berbelit; hanya untuk memuaskan egomu,

Daripada kamu dibilang munafik, Lebih baik kamu mengatakan bahwa aku menikam-mu dari belakang; supaya kamu tidak kehilangan muka,

Daripada kamu melihatku yang mengamatimu dari kejauhan, Lebih baik kamu mengikutiku untuk menunjukkan keberadaanmu;

Well,

Daripada aku bersedih melihatmu berubah menjadi seseorang yang bukan dirimu, Lebih baik kita tidak usah lagi berjalan berdampingan….

(Januari, 2008)

Thursday, January 17, 2008

Menghitung Hari...

Maaf, bukan pengen ngejiplak judul lagu yang dinyanyikan sama Krisadayanti, tapi memang gue sedang menghitung hari. Sejak 17 hari lalu setelah tahun 2008 dimulai, gue sudah memiliki berbagai cita-cita mulia yang gue inginkan terlaksana di tahun 2008 ini. Eh, mulia buat gue tentu saja, tidak berarti mulia untuk semua orang.

Tapi soal cita-cita ini juga perlu ditanyakan. Gue membaca berbagai majalah yang hadir di akhir tahun, beberapa minggu lalu. Bukan karena pengen membaca artikelnya, tapi lebih cenderung ingin dapet hadiah berupa notebook atau agenda atau organizer yang lucu-lucu. Tapi karena sudah beli majalahnya, boong aja kalau gue gak baca artikel-artikel yang ada di dalam majalah itu. Dan dari 5 majalah yang gue beli ... (iya, 5) gue selalu melihat : methamorph your self atau make some resolution, atau change yourself! Intinya adalah : mari kita rubah diri kita (menjadi lebih baik tentunya) di awal tahun ini. Nah, ini jadi menimbulkan pertanyaan buat gue.

"apakah perubahan yang baik itu harus diawali pada awal tahun?"

Kalian pasti setuju jawabannya adalah tidak. Karena, beberapa waktu lalu gue sempet menulis soal perubahan. Perlukah dibahas lagi? tentu tidak. Toh kalian sudah tau perubahan itu pasti terjadi kok. Jadi gak perlu dipanjanglebarkan.

Kenapa gue menghitung hari? Karena inilah jeleknya gue. Gue selalu menepatkan sesuatu sebagai "starting point". Entah itu tahun baru, Idul Fitri atau apapun, sebagai langkah awal menuju perubahan. Contoh deh. Hari Sabtu adalah hari dimana gue harus kuliah, menjejalkan otak pada omongan dosen dan berdoa semoga gue bisa ngerti apa yang Beliau omongin serta berdoa lebih keras lagi ketika sudah tiba musim ujian. Nah, tiap hari Sabtu, selalu ada tugas yang dibawa pulang untuk dikumpulkan pada minggu depannya. Istilahnya PR. Seharusnya, gue bisa ngerjain tugas itu pada hari Minggu kan? Atau Senin. Sehingga pada hari Sabtunya gue sudah siap lagi melakukan rutinitas Sabtu. Kenyataannya adalah, gue selalu beranggapan ada hari esok. "Buat apa mengerjakan sesuatu sekarang, bila bisa dikerjakan nanti?" I know... I know... jelek banget emang... Nah disinilah... gue selalu menetapkan hari 'starting point'. Hari Jumat adalah batas akhir tugas itu selesai. Jadi ya... kerjain aja hari Jumat. Keteteran? Sudah pasti. Sama juga ketika gue menganggap hari jadi gue sebagai "starting point" untuk melakukan perubahan itu.

Buat gue, perubahan yang gue 'canangkan' pada saat tahun baru kemarin menjadi sia-sia belaka, karena gue selalu beranggapan bahwa perubahan dilakukan ketika gue mendapat 'ilham' untuk berubah. Ketika gue sedang "semangat' untuk melakukan perubahan. Jadi, awal tahun bukan sesuatu yang pasti untuk melakukan perubahan. Karena, setelah awal tahun itu lewat menjadi tanggal 17 januari seperti hari ini, toh resolusi itu belum terpenuhi. Hihihih...

Jadi apa yang salah ya? Memanajemen waktu adalah pekerjaan yang sulit. Pun bagi orang pengangguran seperti gue ini. Padahal kegiatan yang pasti gue lakukan adalah cuma hari Sabtu. Berbeda dengan orang lain diluar sana yang punya seabreg kegiatan. Dan mereka bisa lho, mencanangkan atau merencanakan hari-hari mereka dengan baik. Misalnya nih: Hari Senin, jadwal utamanya adalah meeting, Hari Selasa, jadwal utamanya adalah menemui klien, Hari Rabu waktunya agak santai dan hang out karena "ladies day" (bagi kaum hawa) dan bagi kaum Adam, juga hang out karena mereka pasti menemui banyak ladies di tempat hang out. (ngaku luuuu...) Hari Kamis ke Gym, untuk fitness. Hari Jumat hang out lagi, untuk menyambut datangnya weekend. Hari Sabtu, ke salon, atau bengkel, Hari Minggu, santai di rumah sama keluarga. Sedangkan gue? jangan tanya deh. Dari hari Minggu - Jumat adalah waktu dimana gue bisa sendirian di rumah, menulis (sebagai hobby) atau sekedar bersosialisasi dengan para chatters di dunia maya. Hmmm... ada yang salah di sini.

Tapi gue sadar, yang sepenuhnya salah adalah gue. Gue sudah berada di zona nyaman banget, sehingga ketika gue sadar harus melepaskan diri dari zona itu, gue takut. Takut kalau gue akan kehilangan zona nyaman ini. Tulisan ini tentang apa sih? Sebenernya gue cuma pengen mengungkapkan pada diri sendiri, bahwa banyak waktu gue yang terbuang sia-sia. Ini cuma buat merefleksikan diri saja. Bahwa ternyata manajemen waktu itu perlu. Mumpung masih single, (which I hope not for long), mumpung masih bisa berpikir dan masih bisa belajar lagi.

Yuk, jangan canangkan 'starting point' lagi! Apa yang bisa kita lakukan sekarang, lebih baik dilakukan, daripada nunggu entar... Kita gak tau sampai kapan kita bisa hidup. Jadi, yuk, berubah. Demi kita sendiri.

Nah, mau liat gue berubah? Tunggu setelah hari sabtu ya... (lho.. kok?) hihihihihi....


Wednesday, January 16, 2008

kekasih...

mari sini kekasih,
kita jelang saat ini berdua,
menanti mentari terbit,
memandang jauh ke ufuk,
menanti hari indah yang terbentang,
menyulam hari-hari bersama,
meniti tapak demi setapak kehidupan,
untuk kemudian,
meninggalkan dunia bersama...

-- i want to spend the rest of my life being in love with thee....--

A little thing called LOVE...

Today, I found something new
it's this little thing called love,
being in love with you, is something new
I learnt to be respected,
I learnt to be cared
I learnt to be cherished.

And today,
because of this little thing called love,
I want to respect you,
I want to care you
I want to cherish you.

Thank you, for teaching me how to love you this way...
I love you... :)

All these Things!!!

Sometimes you make me sick right to the bone!
But sometimes you cheer up my day like the sunlight
I hate how I feel right now
Wanting you so close, and yet despise what you believe in.
I am being outrageous?
Perhaps so.
But me and you, we should be together in this.
Its not about me, its not about you. This should be us.
Believing in you, believing in what we want, is not all what we have to do.
I need to know. I needed to feel.
This is becoming to those sickening feeling that I've had several times in my life. And I hate to do it all over again. I thought this would be different.
News for you, this is not what I wanted in life.
Why is it so wrong to ask?
And why should I be the one to stop?
Now, I just felt empty....
And I hate this crap!!!

==MAAF==

Maaf, kalau ternyata gue tidak akan pernah bisa seperti yang kamu mau, maaf kalau kamu berfikir gue sudah berpaling dari kamu, maaf kalau ternyata gue tidak sesempurna yang kamu fikir...

Sempurna... Kata-kata itu padahal sudah menjadi kata-kata favorit gue belakangan ini, ketika orang mengharapkan kita semua bisa menjadi 'sempurna' di mata mereka. Kenapa sih, orang selalu mengharapkan kita bisa mengerti apa yang mereka pikirkan, apa yang mereka inginkan, tanpa mempedulikan apa yang KITA pikirkan dan apa yang KITA inginkan?

Gue sudah mencoba untuk mengerti, ketidak-sempurnaan kamu, gue, dan hampir semua orang. Ketika gue mengkritik, itu bukan sebuah permintaan, tapi sebuah pertanyaan dengan buntutnya sebuah kata : Apakah dan Mengapa. Gue mencari sebuah kejelasan, mencari sebuah jawaban atas kata-kata itu. Tapi kenapa kalian atau bahkan kamu menganggap itu sebuah permintaan atas keegoisan yang gue miliki? Lalu kenapa kalau gue egois? Apakah kalian tidak? Apakah kamu tidak?

Gue percaya bahwa setiap manusia itu unik. Bahwa setiap orang memiliki pola pikir dan pendapat yang berbeda-beda. Memiliki sifat dan prinsip yang berbeda pula. Tapi kalau itu lantas diartikan sebagai: "aku adalah milik duniaku sendiri" dan lantas tidak peduli pada sekitar kamu - kalian dengan alasan : itulah gue?

Apakah lantas kamu-kalian beranggapan bahwa apa yang sedang kamu-kalian lakukan --asal tidak mengganggu-- itu benar? Sometimes it bugs me you know.
Sometimes I just don't understand how a person can be so selfish, merasa tidak mengganggu orang lain, lalu membenarkan what you do. What if it does bug people? What if it does bothers people? The way that you act, the way that you react, the way that you see?

Punya sebuah prinsip bagus, bagus banget malah, dibandingkan gue yang gak punya prinsip yang tegas. Gue selalu mencoba untuk flexible, walaupun itu dianggap sebagai orang yang gak punya prinsip, atau gue pada dasarnya males berprinsip-prinsip. Gak tau lah... Mungkin emang bener... Perhaps pada dasarnya gue takut untuk berprinsip.

Well, after all... I am just a human being. I am not perfect. And I don't want you to be perfect. Karena kalau kamu perfect, you will ask me to be perfect. And the truth is, I hate being perfect. And I hate this feeling that I have. Should I stop trying?

Bah!! BaH!! Sekali lagi BAH!!!

Gue pernah bilang kalau gue benci hari Sabtu, karena gue kudu kuliah. Dari hari Kamis, gue udah nyicil bikin tugas kuliah yang ternyata bejibun. Hari Jumat malem, gue udah ready buat kuliah, walaupun tetep bete. Hari Sabtu pagi, gue sempet seneng ketika si Choy telat jemput gue buat nganter ke kampus, artinya gue telat masuk kelas, dan berarti jatah di kelas berkurang sekian menit. Ternyata... sampe di kampus... Itu kampus cuma rame sama anak-anak jurusan lain yang gak gue kenal... Kantor sekretariat PPS tampak terkunci. Dengan tampang bingung, gue nelpon Pak Darmawan (petugas PPS), ternyata oh ternyata.... Kuliah diliburkan sampai minggu depan... Kali ini ... jelas sudah, kenapa gue benci hari Sabtu!!!! HuH!!

Hmmmm....

"Lo nyindir gue lewat blog?"
:Hah?
"Iya, yang lo ceritain di blog elo itu, gue kan?"
:Wah! Kok tersindir? Kenapa?
"Iya, karena lo nyindir masalah kesempurnaan"
:Waduh, karena lo merasa diri lo sempurna?"
"Huh, enggak juga. Tapi ... "
:Kalau elo gak merasa sempurna, berarti lo akan mau belajar kan?
"Yeah, well... "
:Blog itu gue tulis, bagi mereka yang merasa sempurna. Yang merasa benar dengan segalanya. Yang merasa tidak perlu meredam kekecewaannya, tidak perlu memaafkan orang yang telah minta maaf...
"Apakah lo pernah merasa kecewa?"
:Pernah. Sering. Dan gue melampiaskan kekecewaan itu lewat tulisan di blog ini. Itulah kenapa gue bilang, gue merasa tidak sempurna. Karena, gue tidak bisa meredam kekecewaan itu.
"Jadi benernya, Blog ini lo tulis buat elu sendiri?"
:Iya, judulnya aja "me and my thoughts". Apa yang gue rasakan, apa yang gue pikirkan, apa yang akan gue perbuat, semua tertuang di sini.
"Ada yang lo tutupin gak?"
:Setiap orang memiliki rahasia pribadi masing-masing, yang tidak perlu diumbar. Gue dalam tahap pembelajaran. Dan gue selalu belajar. Untuk selalu mikir apa yang bisa dan tidak bisa gue katakan...
"Dalam tahap pembelajaran untuk dewasa?"
:Wah, gue pernah nulis itu. Gue gak pengen dewasa, terlalu berat untuk menjadi dewasa.. Tapi bagaimanapun, proses itu harus gue jalanin...
"Owh, berarti gue gak perlu merasa tersindir?"
:Gue tidak bisa bilang begitu juga. Kalau lo ngerasa tersindir dan akhirnya bisa menerima tulisan gue, gue akan merasa terhormat. Tapi kalau akhirnya lo tersindir dan merasa tulisan gue menyakiti perasaan elo, benernya itu bagus sih, artinya lo 'tersentil' sama tulisan gue.. hihihihh... Tapi gue gak ada maksud untuk nyakitin perasaan lo...
"Terus maksud lo supaya gak terlalu percaya sama orang?"
:Ah, yang bagian itu.. well.. gue pernah percaya sama orang, untuk menyampaikan sesuatu sama orang lain.. ternyata kata-kata gue diputarbalikkan... :) Kecewa? Jelas... Tapi itu semua sekali lagi, proses pembelajaran... Gue bukannya nyuruh elo gak percaya sama orang ya... tapi waspada perlu... daripada dikhianatin? hehehe....
"Makanya, pilih-pilih orang kalo mo curhat!"
:Yap, itu juga proses pembelajaran kan? Tapi gue gak meng-generalisasi semua ya.... gak semua orang seperti itu.. Kebetulan emang gue baru kenal sama ni orang...
"Siapa sih? Gue kenal?"
:Kalaupun toh elo kenal... itu nanti bakalan buat pembelajaran buat elo.. Belajar sendiri dong ah.. jangan nyontek!
"Tapi kalau gue curhat sama dia gimana?"
:Yah, kan elo sendiri yang bilang, pilih-pilih orang buat curhat?
"Jadi bener gak mau ngasih tau siapa?"
:Enggak. Biar lo belajar sendiri. :)

---Hmm.... sekali lagi, blog yang baru terupdate, bukan untuk menyindir siapa siapa.. tapi kalau tersindir.. ya... dipikir aja kali ya... hehehe.. --

PerubahaN

Pernah gak, suatu saat kalian hanya ingin lenyap, tidak merasa apa-apa, hanya ingin sendiri, tanpa diperhatikan atau terlebih lagi memperhatikan orang disekeliling? Gue pernah. Beberapa kali malah. Tapi gue gak bisa. Dan gue yakin, kalian tidak pernah bisa melakukan itu. Kita semua hanya bisa menghadapi kenyataan itu. Sesukar apapun, sesulit apapun, sambil berharap itu semua berlalu.

Gue rasa, kita yang hidup di dunia ini harus bisa melihat perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar kita, di dalam diri kita. Tuhan menciptakan kita untuk bisa "melihat", "merasakan" perubahan-perubahan itu. Dan sadar atau tidak sadar, kita juga ikut ambil bagian dari perubahan itu. Mau atau tidak, terpaksa atau tidak.

Sama ketika kita hanya bisa diam ataupun mengerenyit dahi, menggelengkan kepala tanda rasa ketidak percayaan, atau tersenyum senang, ketika kita melihat perubahan situasi, kondisi ataupun yang dialami orang-orang disekitar kita. Gue juga begitu. Bahkan, gue sendiri cuma bisa bilang : masa iya? Ketika ada orang yang bilang gue berubah.

Apapun definisi perubahan itu, kita semua berharap bahwa perubahan itu merupakan satu transformasi dari yang buruk menjadi baik, yang baik menjadi lebih baik, yang lebih baik menjadi hebat. Adakah orang yang bilang bahwa "saya ini hebat" tanpa bermaksud menonjolkan diri sendiri? Mungkin ada, mungkin ada beberapa orang yang merasa dirinya sempurna, sehingga luput dari kesalahan, sehingga dengan bebasnya menuding atau menuduh ketidaksempurnaan yang ada di sekitarnya. Lalu dengan 'kehebatannya' ia lantas membongkar 'ketidaksempurnaan' sekitarnya itu dengan bahasa yang lantang, tanpa tedeng aling-aling, tanpa memperhitungkan perasaaan orang lain.

Gue adalah seseorang yang sama sekali tidak sempurna, Jauh dari kata sempurna itu sendiri. Gue adalah seseorang yang penuh dosa, dan gue tidak bangga dengan itu. Tapi gue- Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan oleh Tuhan, untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan dimasa lalu. Gue masih diberi keyakinan bahwa gue pasti masih bisa belajar. Gue yakin, gue tidak akan menjadi seseorang yang sempurna. Dan tidak juga kamu-kamu. Tapi ketika kalian sudah merasa puas dan sombong dengan yang kalian miliki sekarang, ingat, bahwa masih ada yang di atas kamu-kamu.

Kita semua hanyalah manusia biasa, tidak sempurna, dan yang menyadari hal ini adalah orang-orang yang belajar tanpa henti. Memperbaiki apa yang ada di dalam diri kita, untuk menjadi lebih baik. Memaafkan semua kesalahan orang lain, meminta maaf atas kesalahan kita, meredam kekecewaan, serta mencoba untuk mengerti, bertoleransi, menjaga perasaan orang lain, adalah beberapa dari pembelajaran itu.

Hanya orang yang merasa dirinya sempurna yang bisa mengabaikan pembelajaran itu, atau orang bodoh? Gue gak tau sih, gue juga bodoh soalnya, makanya sekarang masih kuliah, biar bisa belajar lagi, padahal gue eneg banget sama pelajaran-pelajaran. Tapi gimanapun, gue masih pengen belajar. Belajar mengerti atas perubahan-perubahan yang ada di sekitar kita, belajar menjadi manusia yang lebih baik, belajar untuk meredam rasa gengsi dan meminta maaf apabila melakukan kesalahan, serta tidak mengulangi lagi, belajar untuk lebih waspada, (bukan curiga! katanya beda tuh definisi) terhadap sekeliling kita. Belajar untuk tidak mempercayai apa yang kita lihat pertama kali. (gue ada pengalaman khusus mengenai ini).

Salute mentozz buat yang merasa dirinya sudah sempurna, semoga kesempurnaan itu memang benar adanya.... :)

Nah, sampe mana tadi kerjaan kuliah gue? Belajar lagi aaahhh.... :)) heihaihaiha...

Being Older...

Gak terasa, usia gue bakalan bertambah satu tahun lagi.. Gak terasa juga, I am being older...

Ada beberapa hal dimana gue gak pengen jadi older, salah satunya adalah ketika orang orang disekitar berharap kita dapat lebih dewasa dalam menyikapi suatu hal. Padahal, old means old. Dewasa? Itu lain soal... hehehe...
Lalu ada juga yang merasa, being older means greater responsibility. Tidak boleh tergantung orang. Duh, tinggal di hutan aja mungkin ya?

Beberapa minggu sebelum ultah gue, ada beberapa hal yang membuat gue berfikir, betapa sulitnya mencari seseorang yang dapat membuat kita menjadi diri kita sendiri. Dan betapa tipisnya arti sebuah pertemanan dan permusuhan.

Tapi gue gak mau membahas itu, afterall, nanti akan banyak yang tersindir, gak cuma satu orang saja. Being older, is no fun at all, ketika salah seorang teman yang bilang bahwa gue penghianat, padahal maksud gue baik.. dan ketika gue ngomong sama seseorang dan akhirnya dia memutarbalikkan fakta itu.. gue harus diam dan menelan semuanya sendiri, karena tuntutan "kedewasaan" itu tadi. Dan gue hanya bisa tertawa dalam hati. Miris. Betapa semua ini menjadi sia-sia belaka.

Friends come and go they say, but real friends stays. I found that in my best friend, yang sekarang sudah menikah dan tinggal di Riau. Betapapun gue udah sering nyakitin, atau apapun, dia tetep jadi teman gue. Karena dia tau siapa gue. Dia tau I am just being myself. Gue bukan orang yang sempurna, yang harus tau segala macam tentang dia atau apapun. Dan dia juga tidak peduli ketika gue mempertanyakan macam-macam mengenai dia.

A good friend, knows hows to be a friend. Dan being older like this, tuntutan kedewasaan itu menjadi semakin sulit, ketika banyak hal yang berkecamuk dalam pikiran gue... Semoga gue mampu memenuhi tuntutan itu....

Friday, December 07, 2007

Sharing Some Happiness...

BAkar Jagung ... :)

THE BIRTHDAY BASH !!!!









Pernahkah kamu, berbagi kebahagiaan dengan orang-orang sekitarmu? Tidak perlu hanya ke orang yang kamu kasihi (pacar, suami, pasangan) namun juga ke teman-temanmu? Gue pernah, malah kalau boleh dibilang, cukup sering.

Tapi yang cukup berkesan adalah yang baru terjadi beberapa hari lalu. Tanggal 1-2 Desember, kita (beberapa temen dari IRc dan gue; berjumlah 11 orang) pergi ke Puncak. Menginap di salah satu villa di sana. Tempatnya enak. Gak panjang lebar deh... ada foto villanya kok :) hehehe..


Nah, kita pada dasarnya badung... bersebelas itu niatnya mau ngerjain temen kita dari Jogja, yang memang ulang tahun tanggal 2 Desember, sambil bakar jagung malemnya, minum-minum (oke, campuran alkohol dikit ) dan gitar-an... kita nunggu jam 00.00 persis untuk nyanyi lagu Happy Birthday. Ternyata, niat kita untuk ngisengin tampak lebih jahil lagi. Gue dan Choy pergi ke warung untuk beli 'bahan-bahan' untuk ngejailin. Apa lagi kalau bukan telur dan terigu? Yah.. namanya juga temen lagi ultah.. kapan lagi kita bisa ngisengin dia tanpa rasa bersalah.. ya gak sih? hehehehe..... (dihalalkan kok ngisengin orang pada saat ultah.. )

Anyway.. waktu udah mulai deket dengan jam 00.00, gue sengaja ngajak dia foto foto... dan.. detik berikutnya, tanpa dia sadari.. "byuuurrr" campuran air dan terigu pun terguyur di kepalanya... Jatah berikutnya? Telur mentahpun mampir ke kepala. Padahal Puncak lagi dingin... air panas di villa mati... berikutnya adalah foto foto "penyiksaan.."